Pages

Monday, August 18, 2014

Mermaid: Beyond Belief



Mermaid atau yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan ikan duyung telah menjadi perbincangan di seluruh dunia sekian abad lamanya. Banyak orang membayangkan bahwa bentuk mermaid itu adalah seperti yang ada dalam film The Little Mermaid keluaran Disney, dimana mermaid itu adalah seorang perempuan dengan paras cantik, rambut panjang tergerai indah dan memiliki badan ikan. Tetapi, bagaimanakah sesungguhnya wujud mermaid itu? Apakah mereka benar-benar ada?

Hal ini telah menjadi bahan pemikiran si akunya selama beberapa waktu terakhir, sampai-sampai si akunya stress karena mikirin ini hahaha.. Akhirnya dimulailah penelitian tentang mermaid dengan mencari artikel-artikel serta film-film dokumenter yang membahas tentang ini. Dari sekian film yang aku tonton ada satu film dari Animal Planet yang sangat menarik dan detail dalam memberikan informasi judulnya adalah Mermaids The Body Found. Di sini si akunya akan membahas tentang mermaid secara ilmiah, bukan mermaid yang selama ini ada dalam mitos atau cerita dongeng mistis. 


Film dokumenter dari Animal Planet: Mermaids The Body Found yang berdurasi hampir 1,5 jam menceritakan secara detail asal-usul terjadinya mermaid yang disertai dengan wawancara langsung dengan para ilmuwan dari NOAA (National Oceanic Atmospheric Administration) US Department of Commerce yang melakukan penelitian dalam bidang ini.

Penelitian ini diawali dari ditemukannya suara misterius di bawah laut yang terekam oleh para ilmuwan NOAA di Samudera Pasifik pada tahun 1997. Dikatakan bahwa selama 50 tahun sejarah penelitian yang dilakukan oleh NOAA hanya suara itu yang belum teridentifikasikan oleh mereka, karena bukan suara ikan paus, bukan suara lumba-lumba atau suara binatang mamalia laut lainnya, sehingga mereka menyatakan bahwa suara itu adalah suara dari jenis makhluk yang belum diketahui spesiesnya.

Pada saat itu para ilmuwan NOAA memiliki tugas meneliti peristiwa matinya puluhan ikan paus serta lumba-lumba dimana bangkainya terseret ke pantai. Kematian tersebut disebabkan oleh suara sonar yang dilepaskan oleh angkatan laut. Sonar dalam istilah yang paling sederhana bisa disebut sebagai gema yang menghasilkan gelombang suara yang bergerak melalui media air atau udara. Ikan paus atau lumba-lumba biasanya menggunakan suara ini untuk menemukan objek seperti makanan, anggota keluarga, teman dan untuk berimigrasi melintasi jarak lautan luas.

Teknologi sonar yang memiliki frekuensi yang sama dengan ikan paus dan lumba-lumba yang bahkan lebih kuat ini digunakan oleh angkatan laut untuk keperluan senjata militer dan kapal selam. Suara sonar ini bisa mengusir para ikan paus dan lumba-lumba dari habitat mereka, melukai dan menyebabkan kematian. Inilah yang menyebabkan peristiwa terseretnya puluhan ikan paus dan lumba-lumba ke tepi pantai.


Washington 2004


Peristiwa menggegarkan dari terseretnya sekelompok ikan paus dan lumba-lumba ke tepi pantai kembali menghebohkan masyarakat di Washington State pada tahun 2004. Ketika hari masih gelap ada dua orang bocah laki-laki yang datang ke lokasi hendak bermain ke pantai dan menemukan banyak ikan paus terdampar di pantai tersebut. Kedua bocah itu pun mulai merekam apa yang mereka lihat dengan kamera dari hp mereka. Tak lama diantara dereta ikan paus itu mereka menemukan sesosok makhluk yang ikut terdampar di sana yang belum diketahui makhluk apa itu. Dengan penasaran merekapun  mencoba memeriksa apa yang mereka lihat namun tanpa diduga menimbulkan reaksi dari mahkluk tersebut yang sempat terekam kamera bocah tersebut.




Dari peristiwa ini, tim peneliti dari NOAA yang terdiri dari Dr. Paul Robertson beserta rekannya Dr. Rebecca Davis terjun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan. Ketika mereka tiba di lokasi, mereka mengatakan bahwa sudah ada tim peneliti dari angkatan laut yang sedang menggeledah suatu objek yang ikut terdampar di sana namun tidak bisa dilihat bersama orang-orang lain yang ada di sana karena dilakukan dengan tertutup dan kemudian dengan segera membawa objek tersebut pergi. 

Melalui peristiwa ini juga NOAA kembali menemukan suara misterius yang terekam saat peristiwa tembakan sonar di bawah laut. Suara ini sama dengan suara yang mereka temukan pada tahun 1997. NOAA pun memanggil Dr.  Rodney Webster seorang ahli vokalisasi bahasa hewan untuk menyelidikinya. Dr. Rodney Webster mengatakan bahwa suara itu tidak seperti suara paus atau lumba-lumba yang ia pelajari selama 30 tahun terakhir. Setelah diteliti ia mendapati voiceprints berbeda dan ribuan penanda yang mengidentifikasikan suara misterius yang terekam itu berbentuk kata-kata, makhluk yang mengeluarkan suara tersebut berbicara dengan bahasa.

NOAA terus melakukan penyelidikan pada setiap lokasi terjadinya peristiwa yang sama di berbagai negara dan benua. Suatu kali NOAA dihubungi oleh para ilmuwan di Afrika Selatan karena mereka juga menemukan rekaman suara yang sama saat terjadinya peristiwa tembakan sonar di Afrika Selatan yang kembali menyebabkan terseretnya paus dan lumba-lumba ke tepi pantai. Di dalam rekaman tersebut kali ini ditemukan bahwa suara misterius itu seolah seperti sedang berkomunikasi dengan lumba-lumba. 

Tiba di Afrika Selatan NOAA juga menemukan hiu-hiu yang terbunuh oleh ledakan sonar. Di dalam perut hiu-hiu tersebut ditemukan bangkai beberapa hewan yang tertelan seperti anjing laut, lumba-lumba dan bangkai satu jenis makhluk yang belum diketahui speciesnya. Selain sangat janggal, mereka juga menemukan luka tusukan pada ikan hiu tersebut dengan ekor ikan pari di dalamnya. NOAA pun kemudian melakukan penyelidikan pada bangkai makhluk yang belum diketahui speciesnya tersebut dan melakukan tes DNA. 



Bangkai makhluk tidak dikenal yang ada dalam perut hiu dokumentasi Animal Planet

Makhluk tersebut memiliki tulang rusuk berengsel ciri evolusi yang memungkinkan mamalia laut untuk menyelam. Kemudian mereka juga menemukan gigi yang terdiri dari gigi graham, gigi seri dan gigi taring. Hal ini sangat mengejutkan karena mamalia laut tidak ada yang seperti itu, mereka semua memiliki gigi yang sama. 

Para peneliti dari NOAA mampu memulihkan 30% rekonstruksi dari tubuh makhluk tersebut. Mereka menemukan bahwa makhluk itu memiliki tulang pada bagian ekornya dan ada tonjolan pada dahi tulang tengkorak yang memungkinkan mahkluk itu berenang dengan kecepatan yang lebih baik. Tulang paha mereka panjang tidak seperti mamalia laut lainnya dan tampaknya makhluk itu telah menggunakan alat buatan tangan. NOAA kemudian juga melibatkan Dr. Stephen Pielson dari Smithsonian seorang ahli struktur hewan dalam penelitian ini. Dr. Stepehen Pielson pun kagum dengan struktur dari makhluk ini karena struktur pinggul mereka sama dengan struktur hewan yang berjalan di atas dua kaki, mereka juga menemukan tulang-tulang kecil yang awalnya mereka duga sebagai bagian dari sirip namun tidak ada struktur sirip ikan yang cocok dengan tulang sirip tersebut. Kemudian mereka menyadari bahwa tulang tersebut cocok disusun menjadi struktur tangan.

Dengan menggunakan rekonstruksi dari tengkorak mereka mampu memprediksi ukuran dari bagian-bagian lain dari otak. Pembukaan pada tengkorak frontal cekung dan memiliki sistem sinus ekstensif yang memungkinkan makhluk ini menyiarkan kisaran suara yang luar biasa. Bedasarkan proporsi tengkoraknya pusat interpretasi suara akan menjadi dua kali lebih besar. Ketika percobaan tes sonar dilanjutkan seorang aparat dari angkatan laut menyatakan bahwa mereka mencoba membuat senjata dari suara sehingga mereka bisa melumpuhkan musuh dari jarak jauh. Ledakan akan berasal dari peralatan yang terkunci dalam segel yang tahan air dan tahan tekanan. Namun, para aparat angkatan laut terkejut karena ada satu kasus peledakan yang harus dibatalkan karena ada makhluk yang berada di area yang disterilkan tersebut, mereka bingung karena tidak ada makhluk apapun yang bisa masuk dalam area yang telah disterilkan tersebut dan mengetahui posisi mereka selain dari aparat angkatan laut itu sendiri.

NOAA sangat terkejut dan kagum mendapati bahwa suara misterius yang terekam pada tahun 1997, 2004 dan yang terekam di Afrika Selatan itu adala suara yang sama, yaitu suara dari makhluk yang mereka temukan bangkainya dalam ikan hiu. Makhluk yang memiliki ciri-ciri manusia laut atau kita biasa sebut dengan mermaid. Para ilmuwan NOAA pun menyatakan bahwa mereka adalah seorang ilmuwan dan ilmuwan tidak percaya dengan mitos atau dongeng, namun dari hasil yang mereka dapat dalam penelitian tersebut mereka menyatakan bahwa makhluk yang mereka temukan adalah seekor mermaid.


Evolusi Mermaid




Kera yang digambarkan dalam Animal Planet yang kemudian berevolusi dalam air


Berdasarkan  Aquatiq Ape Theory (AAT) atau biasa disebut dengan teori kera air dijelaskan bahwa dahulu kala, kera pohon berpindah hidup di sungai dan laut sebagai habitat pengganti akibat dari ledakan gunung berapi yang hebat. Setiap hari mereka pun bertahan hidup dengan mencari makanan di dalam air, sehingga lama-kelamaan terjadilah adaptasi yang kemudian berkembang menjadi evolusi. Lama hidup dan berinteraksi di dalam air membuat kera tersebut mulai kehilangan rambut di tubuhnya, hilangnya rambut di tubuh mereka adalah karena lemak yang terdapat persis di bawah kulit tubuh kera karena adaptasi. Setelah sekian lama tubuh mereka pun mulai menjadi licin dan mereka semakin mahir berenang di dalam air dan mampu bernapas dalam air. Tentu saja peristiwa ini tidak terjadi dalam waktu yang singkat, melainkan melewati 5 juta tahun sampai evolusi ini terjadi. Para ilmuwan yang mendukung teori ini mengklaim kekhasan anatomi kera air sama seperti anatomi manusia modern.



Bentuk evolusi mermaid yang digambarkan oleh Animal Planet disesuaikan dengan struktur yang didapat  dari penelitian tim NOAA


Pada tanggal 8 Agustus 2005 pagi-pagi jam 06.05 datang sejumlah petugas polisi ke lab tempat para ilmuwan NOAA melakukan penelitian mermaid dan mengambil semua barang bukti, termasuk file, tubuh dan rekonstruksi tengkorak. Hanya satu yang mereka tidak ambil yaitu bukti rekaman CCTV. Para ilmuwan sangat marah dan kecewa dengan hal ini, izin  VISA mereka pun dicabut sehingga para ilmuwan tersebut harus kembali ke Amerika. Para ilmuwan mengajukan petisi kepada pemerintah Amerika dan Afrika Selatan untuk mengembalikan penelitian mereka tetapi ditolak. 

Tim NOAA kemudian pergi untuk melakukan wawancara dengan bocah yang tiba pertama kali di pantai Washington State tahun 2004 ketika peristiwa paus terdampar terjadi, ternyata sang bocah sudah terlebih dahulu didatangi oleh tim angkatan laut yang memastikan sang bocah untuk meyakinkan orang-orang bahwa yang bocah itu lihat adalah anjing laut.  Ketika bocah tersebut diminta untuk menggambarkan apa yang mereka lihat pagi itu, gambar itu cocok dengan rekonstruksi yang tim ilmuwan NOAA dapatkan dari penelitiannya. Tak lama setelah itu hasil tes DNA yang mereka kirimkan dari Afrika Selatan waktu itu sudah keluar dan hasilnya adalah makhluk tersebut memiliki DNA yang terkontaminasi dengan DNA manusia. 

Meskipun para ilmuwan tidak bisa mendapatkan kembali hasil penelitian mereka, mereka memutuskan untuk meneruskan studi mereka tentang hal ini. Mereka melihat titik-titik lokasi yang berbeda dari peristiwa paus terdampar dan mereka menyadari bahwa paus-paus tersebut sedang dalam rute imigrasi. Dari penelitian yang mereka lakukan, makhluk mermaid  diduga bergaul dan melakukan interaksi serta komunikasi yang baik dengan paus dan lumba-lumba serta juga selalu ikut pergi berimigrasi dengan mereka. Setelah para ilmuwan mengetahui rute imigrasi mereka, para ilmuwan mencoba menelusuri untuk menemukan mereka. Namun sekali lagi usaha mereka digagalkan dan mendapatkan hambatan dari aparat Angkatan Laut. 

New Evidence 

Pada bulan Maret 2013 kembali ditemukan bukti yang terekam oleh Dr. Torsten Schmidt seorang Marine Geologist yang bertugas untuk menyusuri dasar laut dengan kapal selam beserta kru untuk memetakan dan menemukan sumber minyak dan gas alam. Mereka menyelam sampai kedalaman 3000 kaki dan merekam perjalanan mereka di bawah laut. Untuk melakukan operasi mereka, mereka harus memastikan bahwa tidak ada binatang laut apapun yang ada di bawah sana, karena mereka akan menggunakan sonar untuk operasi mereka. Suatu kali mereka menemukan suara misterius ketika mereka sedang melakukan misi mereka di dasar laut Jan Mayen, Greenland Sea.  Suara itu pun menakutkan mereka dan membuat mereka terjaga, karena seharusnya tidak ada binatang laut apapun di area mereka beroperasi. Di tengah keheningan di dalam kapal, tiba-tiba ada sesuatu yang menghantam kapal mereka dengan keras. Namun mereka, tidak tahu apa yang menghantam mereka.

Ketika mereka menceritakan dan memperlihatkan rekaman video dan suara di bawah laut tersebut, mereka langsung diperintahkan untuk tidak melanjutkan operasi tersebut dan menyentuh daerah itu lagi oleh pemerintah. Rasa penasaran menyelimutin mereka, akhirnya Dr. Torsten Schmidt memutuskan melakukan penelitian dengan menyusuri dasar laut Green Land dan rekaman suara itu pun mereka gunakan serta mereka pancarkan di bawah laut dalam setiap operasi mereka, karena mereka ingin tahu berasal darimanakah suara itu dan makhluk apa yang menghantam kapal mereka waktu itu. Mereka memancarkan suara tersebut dari kapal mereka dengan harapan, bahwa makhluk itu akan mengira mereka sebagai teman dan menampakkan diri. Mereka melakukan hal ini selama berbulan-bulan bulan namun tidak mendapatkan apapun. Sampai kepada bulan ke-7 penelitian mereka, merekapun mendapatkan tanda dari makhluk yang mereka cari dan terekam oleh kamera mereka, makhluk itu menunjukkan diri pada 6 Maret 2013 dalam misi bawah laut yang dilakukan oleh Dr. Torsten Schmidt. 




Di bawah ini adalah wawancara ekslusif dan pembahasan lengkap tentang mermaid dari Animal Planet yang sangat menarik untuk dilihat




Cerita tentang mermaid memang sudah ada sejak jutaan tahun lalu, bahkan para manusia purba yang tinggal di gua pada zaman dahulu pun pernah menggambarkan tentang mereka.


Gambaran manusia gua tentang manusia berbadan ikan 

Entah apa yang terjadi di dalam gambar tersebut terlihat bahwa manusia sepertinya manusia mengancam para manusia berbadan ikan tersebut. Apakah pada zaman dahulu sebenarnya manusia dan mermaid hidup berdampingan namun karena satu dan lain hal membuat manusia memburu mermaid, mungkin pada saat itu manusia mengira mermaid sudah punah dan tidak ada lagi, apakah benar demikian? Atau kah mereka bersembunyi di bawah sana karena mereka tidak lagi mau berhubungan dengan manusia?

Para ilmuwan NOAA pun berpikir mungkin hal terbaik yang mereka bisa lakukan adalah tidak lagi mencari mereka, karena mereka tidak ingin dicari dan ditemukan oleh manusia. 

Demikiankah menurut Anda? 








No comments:

Post a Comment